JANGAN KALAH DENGAN SEEKOR ANJING
Suatu ketika, seseorang memperhatikan seekor anjing yang selalu menunggu di depan rumah tuannya. Setiap hari ia mengibaskan ekornya, menyambut dengan penuh kegembiraan, selalu setia dan tak pernah meninggalkan orang yang selama ini memberinya makan—meskipun yang diberikan hanyalah sisa-sisa tulang.
Lalu orang itu berkata dalam hati,
"Seekor anjing saja mampu mengingat satu kebaikan yang terus diberikan kepadanya. Lalu mengapa ada manusia yang melupakan lautan kebaikan dari orang-orang yang telah membesarkannya?"
Bukankah kedua orang tua telah mengorbankan usia, tenaga, harta, bahkan waktu istirahat demi anak-anaknya? Mereka memberi sebelum diminta, memaafkan sebelum dimohon, dan mendoakan bahkan ketika anaknya melupakan mereka.
Bukankah guru telah membimbing dari kebodohan menuju ilmu, mengajarkan huruf demi huruf, sabar menghadapi kekurangan muridnya, serta menunjukkan jalan menuju kebaikan?
Sungguh, Islam mengajarkan agar kita tidak melupakan jasa orang lain. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ
"Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi,).
Karena itu, kesetiaan kepada kedua orang tua dan guru bukan sekadar adat atau budaya, tetapi bagian dari akhlak seorang mukmin. Mengingat kebaikan mereka, mendoakan mereka, menghormati mereka, serta tidak melupakan jasa-jasa mereka merupakan bentuk syukur kepada Allah.
Maka jangan sampai seekor anjing lebih pandai menjaga kesetiaan kepada pemberi makan daripada seorang manusia kepada orang tua dan guru yang telah menjadi sebab kebaikan hidupnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, mengenang jasa, membalas kebaikan dengan kebaikan, serta senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dan memuliakan para guru. Aamiin.
Tags:
Dukung Program Kami
Setiap donasi Anda akan digunakan untuk program-program bermanfaat bagi umat
Donasi Sekarang